Misi Suci Marching Band Tradisional

  • 0

Sekelompok remaja yang sering bermain perkusi ala kadarnya itulah mereka sang ronda sahur keliling, pembangun tanda sahur di bulan ramadhan. Mereka rela bangun lebih awal, dan sahur lebih akhir demi membangunkan masyarakat untuk makan sahur, meskipun capek mendera karena ratusan meter jalan yang mereka lalui serta berteriak-teriak. Mereka berkeliling kampung dengan jumlah personel tak lebih dari lima belas orang. Sambil keliling kampung, mereka menabuh alat-alat musik sederhana untuk memecah keheningan malam hari. Mereka mengemban misi suci membangunkan orang untuk bersantap sahur.
Secara sederhana, musik yang mereka bawakan dapat didefinisikan sebagai salah satu musik tradisional yang dimainkan beberapa orang secara serentak., dengan nada serta gerakan-gerakan yang khas. Alat musik yang biasa mereka gunakan biasanya terdiri dari kentongan bambu, galon, ketipung, kempul, ecek-ecek, dan mini bedug.

Musik ronda sahur keliling ini awal mulannya digunakan oleh penjaga keamanan desa setempat untuk menyiagakan pemilik rumah apabila dirumahnya kemasukan maling atau pencuri. Namun, dalam perkembangannya didaerah kampung-kampung musik ini digunakan untuk membangunkan warga muslim untuk menyantap makan sahur.

Sesuai dengan berkembangnya zaman, alat musik tradisional yang biasa digunakan mengalami medernisasi baik menggunakan sound sistem atau alat musik elektrik lainnya. Musik-musik itu terdengar berbeda sesuai dengan adat budaya daerah masing-masing.

Akan tetapi, kemajuan teknologi mulai menggeser adanya patroli ronda sahur keliling tersebut. Orang-orang mulai banyak menggunakan alarm dari telepon seluler untuk membangunkan mereka saat makan sahur, ada pula televisi yang bisa diatur kapan saja benda itu dapat menyala. Ditambah lagi dengan para remaja yang mulai enggan ber”ronda” lagi.

Mungkin, beberapa tahun kedepan musik-musik seperti itu hanya menjadi mainan remaja dikala senggang saja. Dan bisa jadi berubah menjadi seni tradisional murni yang jarang dimainkan.
Dewasa ini, musik yang beraliran pop sangat mejarai telinga para muda-mudi di berbagai pelosok daerah di negeri kita ini. Sehingga hal ini juga bisa menjadi rentetan dari salah satu faktor tertinggalanya budaya berpatroli ronda sahur keliling. Mungkinkah di era yang akan datang ada musik tradional yang membawa misi suci kembali ?

*dikutip dari Majalah AULA edisi Juli 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar