Sekelompok remaja yang sering bermain perkusi ala
kadarnya itulah mereka sang ronda sahur keliling, pembangun tanda sahur di
bulan ramadhan. Mereka rela bangun lebih awal, dan sahur lebih akhir demi
membangunkan masyarakat untuk makan sahur, meskipun capek mendera karena
ratusan meter jalan yang mereka lalui serta berteriak-teriak. Mereka
berkeliling kampung dengan jumlah personel tak lebih dari lima belas orang.
Sambil keliling kampung, mereka menabuh alat-alat musik sederhana untuk memecah
keheningan malam hari. Mereka mengemban misi suci membangunkan orang untuk
bersantap sahur.
Secara sederhana, musik yang mereka bawakan dapat
didefinisikan sebagai salah satu musik tradisional yang dimainkan beberapa
orang secara serentak., dengan nada serta gerakan-gerakan yang khas. Alat musik
yang biasa mereka gunakan biasanya terdiri dari kentongan bambu, galon,
ketipung, kempul, ecek-ecek, dan mini bedug.
Musik ronda sahur keliling ini awal mulannya
digunakan oleh penjaga keamanan desa setempat untuk menyiagakan pemilik rumah
apabila dirumahnya kemasukan maling atau pencuri. Namun, dalam perkembangannya
didaerah kampung-kampung musik ini digunakan untuk membangunkan warga muslim
untuk menyantap makan sahur.
Sesuai dengan berkembangnya zaman, alat musik
tradisional yang biasa digunakan mengalami medernisasi baik menggunakan sound
sistem atau alat musik elektrik lainnya. Musik-musik itu terdengar berbeda
sesuai dengan adat budaya daerah masing-masing.
Akan tetapi, kemajuan teknologi mulai menggeser
adanya patroli ronda sahur keliling tersebut. Orang-orang mulai banyak
menggunakan alarm dari telepon seluler untuk membangunkan mereka saat makan
sahur, ada pula televisi yang bisa diatur kapan saja benda itu dapat menyala.
Ditambah lagi dengan para remaja yang mulai enggan ber”ronda” lagi.
Mungkin, beberapa tahun kedepan musik-musik seperti
itu hanya menjadi mainan remaja dikala senggang saja. Dan bisa jadi berubah
menjadi seni tradisional murni yang jarang dimainkan.
Dewasa ini, musik yang beraliran pop sangat mejarai
telinga para muda-mudi di berbagai pelosok daerah di negeri kita ini. Sehingga
hal ini juga bisa menjadi rentetan dari salah satu faktor tertinggalanya budaya
berpatroli ronda sahur keliling. Mungkinkah di era yang akan datang ada musik
tradional yang membawa misi suci kembali ?
*dikutip dari Majalah AULA edisi Juli 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar